Tanah Labil, Longsor Ancam Kalialang

Minggu, 05 Juni 2011
KONDISI kampung Kalialang Baru RT 03 RW 07 Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Semarang, semakin mengkhawatirkan. Jalan paving block tak pernah bertahan lama, paling banter hanya sampai enam bulan. Selain itu beberapa kondisi rumah pun retak-retak karena kampung tersebut berada di jalur tanah labil.
Keadaan itu semakin diperparah oleh intensitas hujan yang selalu tinggi beberapa bulan terakhir ini. hampir setiap hari, warga Kalialang Baru harus selalu waspada dan berhati-hati karena sering terjadi secara tiba-tiba tanah di kampung tersebut longsor.
Yantiningsih (43), warga RT 03 RW 07 Kampung Kalialang Baru, Sukorejo, Gunungpati menceritakan, bulan Februari 2011, dapur rumahnya sampai ambrol dan retak-retak karena tanah yang berada di bawah dapur tersebut, labil atau bergerak. Terlebih lagi ketika hujan sangat deras.
“Sejak awal 2011, kami harus terus berhatihati apabila hujan turun sangat lebat karena sangat berpotensi besar, tanah di sini bakalan longsor, ambles, dan bangunan rumah pun mudah retak-retak,” jelas Yantiningsih.
Suyanto (52), warga di daerah yang sama, menambahkan, kondisi tanah di Kalialang Baru memang makin mengkhawatirkan. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada 2011, jalan-jalan paving block saat ini ambles hingga mencapai sekitar dua meteran. Selain itu, beberapa rumah pun sering bambrol terkena longsoran tanah labil.
“Kalau tahun 2010, kondisi jalan tidak separah ini. Walaupun berada di tanah yang labil, dahulu masih bisa diatasi, karena hujan tidak seganas tahun ini,” jelas Suyanto.
Menanggapi keluhan warga, Lurah Sukorejo, Sukidi menjelaskan, pihaknya sudah melaporkan sekitar pertengahan Maret 2011 kepada pihak kecamatan mengenai kondisi Kampung Kalialang Baru yang makin lama makin parah. (dse)

Puri Sartika Dibelit Masalah

WARGA Perumahan Taman Puri Sartika mengeluhkan minimnya perhatian Pemkot Semarang atas berbagai persoalan yang menimpa mereka. Menurut warga, mereka seperti kehilangan induk, dan tidak tahu lagi ke mana mengadukan persoalan di permukiman itu.
Sejak PT Helatoma Cipta, sebagai pengembang Taman Puri Sartika kabur pada 2001, persoalan infrastruktur di perumahan itu seperti tak ada yang mengurus. Jalan rusak, talut ambrol, atau air minum menjadi beban warga sendiri.
PT Helatoma Cipta Semarang yang berperan sebagai pihak pengembang perumahan, dianggap warga tak bertanggung jawab karena tanpa memberi kabar, pergi begitu saja dan tidak tahu keberadaannya di mana. Celakanya, hingga kini seolah-olah dibiarkan saja oleh Pemkot Semarang.
“Pemkot seperti tidak mau tahu terhadap nasib kami yang tinggal di sini (Taman Puri Sartika –Red). PT Helatoma Cipta sudah pailit atau dipailitkan pun, kami tidak tahu karena Pemkot sendiri tidak memberikan jawaban atas pengajuan pertanyaan kami,” kata Sutiyono (38), sekretaris RW12 Perum Taman Puri Sartika itu.
Sudah berkali-kali, kata dia, warga mengajukan bantuan atau sedikit perhatian kepada Pemkot Semarang, tetapi hasilnya selalu nihil. Terpaksa, warga berkali-kali pula harus merogoh kocek sendiri untuk sedikit demi sedikit memperbaiki infrastruktur di perumahan, daripada menunggu bantuan yang tidak pasti didapat.
“Jika pengajuan bantuan kami sampaikan ke tingkat kelurahan pun, selalu menjadi yang paling bontot. Itupun belum tentu terealisasikan,” kata guru SD Jetaksari 1 Sayung Demak tersebut.

Tujuh RT
Perumahan yang berpenghuni 380 KK dengan jumlah tujuh RT, harus menata wilayah sesuai dengan kemampuan warga. Jika ditarik garuis besarnya, ada empat masalah utama yang harus dihadapi warga hingga kini. Di antaranya adalah pengadaan air bersih, talut yang sering ambrol, jalan yang selalu rusak, dan tak tersedianya tanah makam.
Jalan utama ke perumahan, banyak yang berlubang sehingga para pengendara kesulitan untuk memilih jalan yang layak dilewati. Di jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer dari gerbang utama hingga Kalialang, terdapat sekitar 12 patahan jalan dan tak sedikit pula talut-talut yang longsor.
Warga mengakui, ketika akan menghuni perumahan tersebut, tidak mengetahui apabila di kawasan tersebut merupakan bertanah labil, mudah longsor karena sebelumnya tidak pernah dibeberkan oleh pengembang (PT Helatoma Cipta –Red).
“Karena kami keluarga baru yang butuh rumah, dapat promosi dan iming-imingan rumah murah, ya kami beli. Eh, di tengah-tengah waktu, kami sudah agak lama tinggal, baru tahu kondisi sebenarnya,” jelas Suwartini, warga Blok B93 RT 03 RW 12 Perum Taman Puri Sartika itu.
Secara umum, warga sangat prihatin melihat kondisi yang terus menerus dialami dan sangat mengharap perhatian khusus Pemkot Semarang terhadap lingkungan yang rawan. “Kami tidak tahu mengapa pihak pengembang dahulu memilih tempat ini dan bisa disetujui ataupun diizinkan oleh Pemkot,” kata Imam Soedjoko (68), warga RT 01 RW 12 itu. (dse)

Bonbin Pindah, Tinjomoyo Makin terlupakan

RATUSAN pepohonan yang tumbuh subur dan rimbun di Tinjomoyo, Kelurahan bendandhuwur, Gajahmungkur, Semarang, membuat kawasan itu memang pantas dinobatkan menjadi salah satu hutan wisata.
Terlebih lagi apabila kita menyaksikannya dari kejauhan,, Jalan Pawiyatan Luhur, akan tampak jelas hamparan luas yang menghijau. Hutan Tinjomoyo, sebuah hutan yang tetap dipertahankan oleh Pemkot Semarang terutama keasriannya sebagai ruang terbuka hijau RTH di Kota Semarang.
Namun sayang, hutan yang memiliki luas sekitar 57,5 hektar itu terkesan selalu “nyepi”. Apabila dibandingkan sebelumnya, semasa masih menjadi satu lokasi dengan Taman Margasatwa atau kebun binatang bonbin, keadaanya sangt berbeda jauh.
“Ketika sebagian wilayah asih digunakan sebagai bonbin, pengunjung selalu ada tiap harinya. Tapi ketika bonbin dipindah ke Mangkang dan di sini hanya untuk hutan kota, hampir sebagian besar tanpa pengunjung,” ungkap Kepala Bagian Administratif dan Kebersihan UPTD Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang, Mulyono.
Mulyono menjelaskan, saat ini, apabila dirata rata hanya terjual 20 tiket per hari dengan pendapatan sekitar Rp 400 ribu per bulan. Apabila sebelumnya tahun 2007, tempat tersebut bisa menarik minat pengunjung rata-rata 100 orang dengan pendapatan rata-rata Rp 1 juta per bulan.
“Kunjungan yang paling ramai ya, sekitar 40 orang ketika Minggu. Itupun pas ada kegiatan outbond. Kalau tidak ada, ya, beginilah kondisinya, sepi,” jelas Mulyono sambil memperlihatkan kondisi pintu masuk Hutan Wisata Tinjomoyo.

Keanekaragaman Hayati
Hutan Tinjomoyo yang memiliki keanekaragaman pepohonan, seperti mahoni, jati, akasia, asem londo, ketepeng, mangga, kelengkeng, matoa, nangka, dan masih banyak lainnya, memang sengaja tidak beralih fungsi.
Hal itu dikarenakan berfungsi sebagai daerah resapan air dan pencegah banjir. “Akhir Desember 2010, kami baru saja menanam 2.200 mahoni dan 50 ketepeng. Apabila tiap tahun terus ditanami pepohonan seperti ini, kawasan Tinjomoyo semakin hijau. Dan semoga saja, member rasa nyaman pengunjung,” harap warga Ngesrep, Gombel, Semarang tersebut.
Susanto , mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Semarang menilai, makin sepinya orang yang berkunjung ke Hutan Tinjomoyo karena sudah tidak ada lagi yang menarik untuk dikunjungi sebagai wisata atau tempat rekreasi.
“Apabila dahulu ada bonbin di tempat ini, tiap akhir pekan pasti selalu tampak ramai, terutama sebagai objek wisata keluarga,” jelas pria yang mengaku hampir tiap bulan ke Hutan Tinjomoyo.
Santo, demikian dia disapa menambahkan, semestinya Pemkot Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Disbudpar juga memperhatikan akses jalan menuju lokasi wisata tersebut. Selain itu, perlunya memberikan ruang di beberapa sudut seperti gazebo dan arena permainan anak.
“Apbila dilihat, kondisi jalan sepanjag sekitar satu kilometer di dalam hutan Wisata Tinjomoyo, ratarata rusak. Di samping itu, tidak ada kendaraan umum yang masuk ke sini. Maka wajarlah, apabila sepi terus,” ungkap warga Bendandhuwur tersebut. (deni setiawan)

PSK Sunan Kuning Cek Kesehatan

RABU (13/4), ratusan pekerja seks komersial (PSK) Resosialisasi Argorejo, atau lebih populer dengan sebutan Sunan Kuning (SK), mengikuti pemeriksaan rutin serta pengobatan di Balai Pertemuan Resosialisasi tersebut. pemeriksaan kesehatan itu dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Komisi Penanggulanga AIDS (KPA) Kota Semarang, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Griya Asa, serta Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Divisi HIV AIDS.
Kegiatan yang dilakukan secara serentak dan berkala di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal di tiap tiga bulan sekali itu, dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit HIV AIDS serta penyakit infeksi Menular Seksual (IMS) pada diri PSK dengan program Pengobatan Presumtif Berkala (PPB).
“Pemeriksaan rutin dan berkala ini, kami lakukan untuk menekan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam maupun di luar nikah bagi pengidap IMS, seperti sifilis, GO, klamidia hepatitis B,” kata Ari Istradi, koordinator LSM Griya Asa PKBI Kota Semarang.

Pencegahan HIV
Ari menambahkan, program yang bertujuan untuk melakukan pemeriksaan, pencegahan, dan pengobatan terhadap penyakit hubungan seksual itu, difokuskan sebgai upaya pencegahan terhadap virus HIV. IMS bukan penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual, tetapi menular melalui hubungan seksual yang tidak memakai kondom. Sehingga, pengobatan IMS terhadap PSK tidak dapat mencegah penularan HIV.
Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwardi Eko Putranto mengatakan, sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 tentang penekanan HIV, AIDS, dan Pengobatan Intensif Berkala, pihaknya sangat menyambut baik program berkala tersebut. pihaknya pula, berjanji akan terus menyosialisasikan program pemerintah tersebut secara giat dan berkala pula. (dse)

Musrenbang Terbuka!

PELAKSANAAN Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Jawa Tengah 2011 yang dilaksanakan tertutup dinilai menyalahi UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan publik. Pendapat ini disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPR Abdul H Naja.
Menurut Abdul, undang-undang tersebut menyatakan setiap orang berhak memperoleh informasi, melihat, dan mengetahui informasi yang sedang disampaikan. Selain itu, masyarakat pun berhak menghadiri pertemuan publik yang terbuka untuk umum dan memperoleh salinan informasi yang kemudian disebarluaskan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
“Termasuk wartawan, mereka kan juga publik yang memiliki hak sama dengan yang lain. dari informasi itu, dapat diketahui oleh masyarakat secara luas. Intinya, tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Abdul.
Dia menambahkan, apabila melihat kondisi seperti itu, tentu akan mengundang permasalahan baru. Masyarakat atau publik akan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi di dalam Pemprov Jateng saat ini sehingga musrenbang dilaksanakan secara tertutup.
Secara terpisah, Ketua Komisi Informasi Publik Jateng, Rahmulyo Wibowo mengatakan, dalam kasus Musrenbang Jateng, masyarakat harus membedakan pengertian tertutup itu. Apakah yang dimaksud itu dilaksanakan di ruangan tertutup atau tertutup bagi publik. “Apabila tertutup bagi publik, hal itu bertentangan dengan undang-undang karena musyawarah apapun harus terbuka,” kata Rahmulyo.
Sementara itu, menanggapi kasus laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) anggaran 2010, pengamat politik Undip Semarang, Teguh Yuwono mengatakan, terjadinya penjiplakan atau copi paste LKPJ tidak terlepas dari keteledoran Gubernur Jateng yang malas membaca laporan tersebut sebelum menyerahkannya kepada DPRD Jateng.
“Hal itu yang harus disikapi serius oleh Gubernur Jateng. Sesibuk apapun, tugas Gubernur ya harus membaca dan mengontrol,” kata Teguh. (dse)

Parkir Liar Paragon Disoal

KEBERADAAN parkir di sekitar Mal Paragon, Jalan Pemuda, Semarang, dipersoalkan DPRD. Parkir liar itu dinilai merampas trotoar, yang semestinya menjadi hak pejalan kaki.
Trotoar di sekitar Mal Paragon digunakan sebagai tempat parkir ratusan motor. Akibatnya, para pejalan kaki yang akan melewati trotoar tersebut, harus turun langkah ke tepian jalan.
Padahal, semestinya para pejalan kaki yang berhak atas fasilitas tersebut. Selain itu, paving block di trotoar tampak rusak dan berlubang karena setiap hari digunakan untuk parkir motor. Tak hanya itu, trotoar itu juga kerap digunakan sebagai lokasi berjualan.
Terkait itu, Komisi C DPRD Kota Semarang akan memanggil pengelola Mal Paragon terkait dengan masih adanya parkir liar di sekitar pusat perbelanjaan itu. Hal itu dirasa penting karena hingga kini, trotoar itu belum berfungsi sebagaimana mestinya dan belum sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan DPRD, 2 Mei 2010 lalu.
“Dalam waktu dekat, kami berencana akan memanggil ulang pihak pengelola Mal Paragon tentang msih adanya parkir liar, khususnya motor di sana dan apabila tetap tidak dijalankan, satu-satunya jalan terakhir, ya, meminta penghentian sementara operasional Mal Paragon,” kata Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Zulkarnaini.
Berdasarkan isi rekomendasi yang telah disepakati itu, kata dia, DPRD meminta pengelola Mal Paragon untuk melakukan penertiban parkir sesuai dengan analisis dampak lingkungan hidup Amdal,yakni di bagian basement gedung. Namun, hingga kini pengelola Mal Paragon belum menjalankan Amdal itu.

Penertiban
Selain itu, DPRD juga meminta seluruh SKPD terkait, terutama Satpol PP untuk turun tangan menertibkan parkir di depan Mal Paragon dan meminta pihak pengelola mal mengganti pohon yang telah ditebang sesuai dengan Perda. Untuk setiap pohon yang ditebang, pengelola wajib mengganti dengan pohon dengan masa pemeliharaan dua tahun.
“Ketika itu, Handoyo, Manajer Operasional Mal Paragon yang memenuhi panggilan kami, mengatakan siap melaksanakan seluruh rekomendasi yang dikeluarkan demi kepentingan umum,” kata Zularnaini.
Namun pada kenyataannya, kata dia kondisi tersebut masih sama sebelum kami melakukan pemanggilan. “Apabila ada perubahan dan menjalankan rekomendasi yang telah disepakati, kondisi parkir liar tidak mungkin akan terlihat saat ini dan seterusnya,” jelas anggota DPRD dari Fraksi Partai Demokrat itu.
Selain itu, pihaknya juga akan meminta pertanggungjawaban Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang. Termasuk juga akan mengadakan evaluasi bersama dengan Satpol PP, Dinas Pertanaman, dan Badan Lingkungan Hidup (BLH), terkait persoalan tersebut.
Terpisah, pengamat transportasi dari Unika Soejipranoto, Djoko Setijowarno menyatakan, menyayangkan masih ditemukannya penggunaan trotoar di depan Mal Paragon tersebut. Untuk lahan parkir motor, bahkan semakin hari semakin tidak terkendali.
“Pemkot Semarang semestinya menegakkan aturan yang sudah tertian di UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan LLAJ. Di UU itu, sangat jelas aturannya, trotoar adalah fasilitas untuk pejalan kaki, bukan untuk parkir atau pun tempat berjualan,” jelas Djoko. (dse)

Mengenang Pramoedya dari Rumah di Pojok Jalan

Jumat, 20 Mei 2011
RUMAH itu terlihat biasa saja, tak jauh beda dari bangunan di sekitarnya. Sama sekali tidak lebih mewah. Bahkan, cenderung lebih jadul dengan kondisi bangunan yang mulai condong ke sisi kiri lantaran dimakan usia.
Tapi kalau disebut siapa-siapa yang pernah lahir, dalam pengertian sebenar-benarnya, pasti Anda akan ngeh perihal keistimewaan rumah itu. Sebab, di rumah itulah Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia dilahirkan.
Rumah di Jalan Sumbawa Nomor 40, Jetis, Kabupaten Blora itu, memang rumah keluarga Pram, begitu penulis tetralogi Bumi Manusia acapkali disebut. Sekarang, rumah lawas itu digunakan untuk Perpustakaan Pataba, sekaligus ruang publik untuk berbagai aktivitas budaya.
“Semula, Pataba merupakan kependekan Pramoedya Ananta Toer Anak Blora Asli. Tapi kemudian saya pikir, mana ada yang sebenar-benar asli. Lalu, kepanjangannya menjadi Pramoedya Anak Semua Bangsa,”tutur Soesilo Toer, adik kandung Pram yang saat ini mengelola rumah “pusaka” sekaligus Perpustakaan Pataba tersebut.
Sore itu, Senin (16/5), Perpustakaan Pataba bersama Komunitas Pasang Surut Blora menggelar Srawung Srana Seni #1. Perhelatan itu merupakan wujud upaya menggalang komunikasi dan jejaring antar komunitas.
“Ngiras-ngirus memperingati lima tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer,” kata Eko Arifianto, komandan Komunitas Pasang Surut.
Sekadar informasi, Pram meninggal 30 April 2006, atau sekitar lima tahun silam. Sastrawan yang pernah ditahan di Pulau Buru tersebut tutup usia setelah berjuang melawan komplikasi penyakit paru-paruu, ginjal, gula, dan jantung. Selanjutnya, penulis Panggil Aku Kartini Saja tersebut dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta.
Kembali ke rumah Pram, malam itu, sejumlah pegiat seni dari sejumlah kota hadir. Tiga orang pegiat seni Semarang didapuk sebagai “bintang tamu”. Mereka adalah Achiar M Permana (Sentong Seni Sorartjeh), Widyo “Babahe” Leksono (Komunitas Payung Kertas), dan Gunawan Budi Susanto (Komunitas Gubugunung).
Pada kesempatan itu, Achiar membacakan sejumlah puisis karyanya, Babahe mendaras geguritan yang direkamnya, dan Gunawan membacakan dua cerpen yang berkisah tentang para korban 1965. Menariknya, mereka mengajak juga beberapa siswa yang hadir untuk berkolaborasi.
“Hadir di rumah Pram, bagi saya sama dengan membayar utang, sekaligus kesempatan untuk ngangsu kawruh untuk banyak hal,” kata Gunawan.
Selain mereka, sejumlah pegiat seni dari Blora, Cepu, Bojonegoro, bahkan Juwana (Pati) hadir di rumah pojok jalan itu. “Acara ini memang dadakan, pemberitahuan kepada kawan-kawan pun seperlunya. Tapi, ternyata mereka cukup antusias untuk hadir,” kata Eko.
Dan yang lebih penting lagi, semoga rumah tersebut tetap menjadi ruang publik untuk semua orang yang ingin mengenal lebih dekat Pram termasuk perjalanannya silam, meskipun telah laku terjual oleh siapapun. (deni setiawan)

Kanal Asyik Diskusi Rock Klasik

KOMUNITAS ini tidak memiliki sekretariat di dunia nyata. Sebab, aktivitas mereka lebih banyak berdenyut di situs jejaring pertemanan, Facebook.
Namanya, Proclaro (Progesif Classic Rock Community). Komunitas itu merupakan kelompok penggila music classic rock.
Proclaro berdiri pada 16 Oktober 2010 ini, yang dibentuk oleh Nugroho Wahyu Utomo dan kesembilan temannya. “Proclaro Semarang dibentuk sebagai distrik dari Proclaro Community di wilayah Semarang. Sebelumnya, telah berdiri Proclaro Community di Solo yang diprakarsai oleh Heri Guardi dan Sam,” kata Nugroho, yang akrab disapa NWU, koordinator Proclaro Semarang.
Selain tiu, Proclaro Semarang berbeda dengan distrik lainnya, komunitas ini beranggotakan dari kalangan muda dan dewasa. Mereka yang muda-muda adalah pemain band indie dan paham betul dengan rock klasik. “Dengan latar belakang anggota yang semacam itu, saat berdiskusi bisa lebih nyambung,” katanya.
Sesuai dengan namanya, kegiatan di komunitas tersebut lebih menitik beratkan semacam ajang diskusi antara penggemar music progresif dan rock klasik dari seluruh Indonesia melalui Facebook. Mereka kerap bertukar informasi tentang musisi progresif rock metal jazz dan rock klasik dari belahan mancanegara maupun Indonesia. Caranya, dapat dengan mendiskusikan video atau rekaman musik yang telah diunggah di Facebook.
Peserta diskusi di Facebook yang dadakan namun telah menjadi rutinitas ini bukan cuma dari Solo dan sekitarnya. Namun yang namanya jejaring sosial macam Facebook bisa disaksikan di belahan bumi manapun. Sehingga peserta diskusi ada yang berasal dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Semarang, Malang, bahkan sampai Kalimantan dan Sumatera,” kata NWU, yang pernah mengasuh program Classic Rock di Radio TOP FM Semarang tersebut.

Obrolan Tidak Resmi
Awal mula berdiri komunitas ini pun, kata NWU, melalui kegiatan diskusi dan obrolan yang tidak resmi di Facebook, yang kemudian memunculkan kata-kata pujian untuk tayangan video yang diunggah, yakni swiibbbzzzz (parody dari siiiipppppssss) dan azimthhh….. selain itu, berangkat dari gathering atau ngumpul-ngumpul semacam kopi darat komunitas ini pada 16 Juli 2010 di Klaten, yang dilanjutkan di Solo pada 5 Oktober 2010.
Selang seminggu kemudian, Proclaro Semarang resmi berdiri. “Dari situlah, timbul keinginan membangun Proclaro,” jelas pria yang telah mengoleksi 3.700 kaset rock klasik keluaran tahun 1960-an sampai dengan 1980-an itu.
Tercatat hingga kini, sudah 30 orang yang telah bergabung secara resmi dengan Proclaro Semarang. Mereka berasal dari orang yang ingin memahami musik-musik klasik, yang ingin berbagi pengetahuan dan member masukan kepada para pecinta maupun kolektor musik lawas tersebut. (deni setiawan)

KA Anjlok Bukan Salah Masinis

PT Kereta Api (KA) Daerah Operasional (Daop) IV Semarang, masih menyelidiki anjloknya KA Bangunkarta Jurusan Jakarta-Jombang di Desa Tegowanu Kulon, Tegowanu, Grobogan, Minggu (10/4) sekitar pukul 00.00. Dugaan sementara, dua gerbong KA tersebut anjlok karena terjadi double spoor.
“Saat ini tim yang sedang menyelidiki penyebab anjloknya dua gerbong KA Bangunkarta, sementara menduga dikarenakan double spoor,” kata Sapto Hartoyo, Kepala Humas PT KA Daop IV Semarang.
Sapto menjelaskan, dugaan tersebut karena diketahui roda depan gerbong berada di jalur rel tetapi roda belakang keluar rel. selain itu, adanya salah satu standar operasi KA yang tidak dijalankan.

Human Error
Secara terpisah, Wakil Kepala PT KA Daop IV Semarang, Subagyo, tim Commite Ondersuch (CO) yang bertugas menyelidiki penyebab anjloknya KA Bangunkarta tersebut, mulai bekerja pada Senin (11/4) dengan mencari tahu Standar Operation Procedur (SOP) manakah yang tidak dijalankan secara normal. “Ini bukan kesalahan mekanis atau teknis. Kemungkinan besar diakibatkan human error karena semua sistem dioperasikan dari stasiun oleh manusia,” tambah Subagyo.
Sapto pun memperjelas, double spoor merupakan dugaan sementara, hasil pasti penyelidikan penyebab peristiwa tersebut akan dapat diketahui sekitar satu minggu kemudian. Walaupun tidak ada korban jiwa, pihaknya meminta maaf kepada masyarakat yang telah dirugikan akibat peristiwa itu. Termasuk para penumpang KA Bangunkarta yang berjumlah sekitar 400 orang.
“Proses evakuasi dua gerboing KA yang anjlok berhasil diselesaikan sekitar pukul 08.20. Setelah itu, kami melakukan perbaikan rel rusak selama dua jam, sepanjang 20 meter,” tambahnya. Kini perjalanan KA yang melintasi daerah tersebut sudah kembali normal. Meski begitu aparat terkait masih melakukan pengawasan intensif di lokasi anjlok KA itu. Langkah yang ditempuh untuk memastikan KA yang melintas dijamin aman.
Pihak Daop IV sendiri kini akan melakukan pengecekan jalur rawan yang dikhawatirkan terjadi musibah serupa. Apalagi sekarang ini, animo masyarakat untuk mengadakan perjalanan menggunakan KA semakin meningkat. (dse)

“Teroris” Menang di Nogososro

PAGI itu, sekelompok orang berpakaian tentara berusaha menyerbu sebuah gedung yang diduga sebagai markas para teroris. Sebelumnya, lewat brifing, komandan pasukan telah mengatur strategi untuk membekuk teroris yang sedang bersembunyi itu.
Setelah semua tersusun rapi, perlengkapan senjata mulai dipersiapkan termasuk mengecek persediaan peluru agar ketika pertempuran berlangsung, tidak mati konyol oleh musuh, gara-gara kehabisan peluru.
Saat-saat yang dinanti akhirnya datang juga, sekitar sepuluh pasukan berseragam ala tentara mulai ada menyelusup ke semak-semak, ada pula yang bersembunyi di balik pohon. Tak lama kemudian, baku tembak mulai berlangsung.
Tapi, strategi teroris yang dipakai sangat ciamik, membuat pasukan pemberantas teroris kewalahan. Hampir satu jam pertempuran, pasukan teroris masih lima orang. Mengalami kondisi demikian, pasukan tentara pun mundur dan menyerah. Setelah dinyatakan berhenti dan selesai, orang-orang yang tertembak, tiba-tiba hidup lagi dan langsung mengambil air minum untuk melepas dahaga. Selain itu, kedua belah pihak yang bertikai pun, saling berjabat tangan sambil melepas tawa.
“Ya, namanya juga permainan, yang tadinya dianggap mati karena tertembak, bisa hidup lagi ketika sudah dianggap selesai. Semua itu bukan pertempuran nyata,”Dio Anggoro (20), staf program AMX Nogososro.

Komunitas Airsoft
Benar! Pertempuran itu hanyalah permainan yang sedang ditunjukkan oleh sebuah komitas airsoft yang bernama AMX Nogososro Semarang. Setiap Minggu mereka menggelar latihan rutin di kawasan Medan Latihan Drill, Teknis, dan Taktis Rindam IV Diponegoro Tembalang, Semarang.
Komunitas yang berdiri pada 10 Oktober 2010 ini, sebagai salah satu cabang dari AMX Squad Airsoft Team Indonesia yang berpusat di Bandung Jawa Barat. Secara keseluruhan, komunitas AMX telah memiliki 10 cabang di Indonesia dengan jumlah sekitar 350 orang.
Dilihat dari filosofi Agile, Mindfull, dan eXperience (AMX) yang merupakan nama sebuah tank. “Harapannya, para pencetus nama bisa menjadi salah satu klub airsoftgun yang solid, tangguh, kuat, dan bisa menjadi andalan, seperti halnya tank AMX, yang apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah kelincahan, penuh perhitungan, dan pengalaman,” Handy Sakti (31), ketua harian AMX Nogososro.
Sebagai salah satu wakil komunitas di Jawa Tengah, AMX Nogososro telah memiliki anggota berjumlah 35 orang dari berbagai macam profesi. (deni setiawan)

Ribuan Penumpang Kereta Telantar

RIBUAN penumpang kereta api telantar di sejumlah stasiun di jalur utara Jawa Tengah akibat anjloknya dua gerbong kereta api (KA) Bangunkarta jurusan Jakarta-Jombang, Minggu (10/4) sekitar pukul 00.00
Lokasi kecelakaan tersebut sekitar 100 meter dari Stasiun Tegowanu, Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan.
Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Namun, semua KA yang melewati jalur tersebut, harus menunda keberangkatannya. Pada Minggu siang, perjalanan seluruh KA yang lewat jalur utara jateng sudah lancar.
Kereta yang perjalanannya tertahan antara lain adalah KA Argo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya itu tertahan di Stasiun Tawang Semarang selama sekitar enam jam.
Kereta lain yang tertahan adalah KA Gumarang dan KA Sembrani yang tertahan di Stasiun Alatuwo Semarang. Selain itu, KA Brantas yang mengangkut sekitar 900 penumpang tertahan di Stasiun Brumbung Mranggen, Demak.
Kepala Humas daerah Operasional (Daop) IV PT KA jateng, Sapto Hartoyo, memastikan pada Minggu siang, seluruh perjalanan KA telah normal. “Dua gerbong KA Bangunkarta yang anjlok telah berhasil dievakuasi pada pukul 08.20. tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya saja, empat KA yang ke arah timur harus ditunda keberangkatannya,” kata Sapto, Minggu (10/4).
Sapto yang mengikuti proses evakuasi menjelaskan dua gerbong paling belakang. KA eksekutif tersebut berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta pukul 16.10 dan tiba di Stasiun Tawang Semarang pukul 23.44. KA Bangunkarta dijadwalkan tiba di Jombang pukul 05.58.
Sapto juga mengatakan, pihaknya belum mengetahui penyebab anjloknya KA Bangunkarta. “Dalam seminggu ini, kami akan terus melakukan penyelidikan dan evaluasi terkait kejadian tersebut,” katanya.
Pada kesempatan itu, Sapto juga menyatakan PK KA meminta maaf kepada masyarakat, terutama kepada para pengguna KA atas ketidaknyamanan akibat anjloknya gerbong KA Bangunkarta di wilayah Grobogan.
Sementara itu, sejumlah pengguna KA kecewa dengan pelayanan PT KA karena tak menginformasikan keterlambatan sejumlah KA. Suripto (39), calon penumpang KA Banyubiru mengaku menghabiskan waktu selama tiga jam untuk menunggu loket KA buka. “Saya sejak pukul 05.15 berada di stasiun, tapi sampai pukul 08.15 belum ada kepastian kapan KA Banyubiru akan berangkat,” kata Suripto ketika ditemui di Stasiun Poncol Semarang.
Sedangkan Yantiningsih (41) warga Semarang yang hendak ke Surabaya menggunakan KA Argo Anggrek mengaku sudah menunggu di Stasiun Tawang Semarang sejak pukul 01.00, tetapi hingga pukul 07.00 petugas belum melayani penjualan tiket KA Argo Anggrek tujuan Surabaya. (dse)

Bumerang Haryo Terbang ke Bangladesh

Senin, 02 Mei 2011
PADA 2005, Haryo Pangarso (46), memperoleh oleh-oleh sebuah bumerang dari seorang teman yang bekerja di Australia. Dia penasaran betul dengan cara menggunakan senjata Suku Aborigin itu. Berkali-kali mencoba, berkali-kali pula dia gagal menerbangkan bumerang.
“Ternyata, utnuk mengetahui cara menerbangkan bumerang yang benar, butuh waktu lama. Terlebih lagi secara autodidak, seperti saya,” jelas Haryo.
Dari penasaran itu, dia pun iseng-iseng mencoba membuat bumerang. Berbekal laptop untuk mempelajari seluk-beluk bumerang di berbagai website, dia mmenemukan beraneka ragam bentuk, ukuran, dan ornament untuk menghiasinya.
Setelah itu, dia mencoba merancang desain dengan menggunakan botol-botol kososng yang dibentuk bumerang. “Bumerang botol plastik itu saya coba sampai benar-benar terbang sempurna dan kembali di tangan saya,” tuturnya.
Lima tahun kemudian, Haryo dikenal sebagai pembuat bumerang. Dia mengelola toko online, yang menjual berbagai jenis bumerang buatan sendiri. “Ada sekitar 50 jenis bumerang kami buat dan jual secara online,” kata Haryo.

Penjaga TK
Sehari-hari, Haryo adalah penjaga TK Hj Nartini. Dari TK itu pula, Haryo menjalankan toko bumerang online nya.
Produksi bumerang juga dlakukan di TK itu, dibantu oleh Deni Sunawar. Dengan modal Rp 100.000, Haryo bisa membat sekitar 20 bumerang dalam waktu tiga hari.
Alat yang digunakan pun cukup sederhana. Hanya perlu perlengkapan seperti spidol, gunting, gergaji, cutter, amplas, lem, dan jepitan buku. Bahan bakunya, cukup sebuah tripleks setebal 3 milimeter.
“Rata-rata, kami mematok harga Rp 25.000-Rp 100.000 per buah, belum termasuk ongkos kirim,” tuturnya.
Seluruh karyanya diuji cobakan dahulu untuk memastikan layak terbang. Biasanya uji coba dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00-09.00 di lapangan sepak bola eks Sekolah Tinggi Olahraga (STO), Pegandan, Sampangan. “Bumerang yang baik ketika dilempar ke udara, mampu kembali ke posisi semula,” jelas Haryo.
Dari bisnis yang baru dia jalankan selama sekitar setahun itu, pesanan pun sudah mengalir dari beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, bahkan kota-kota di Sulawesi.
Saat ini, tambahnya, dia sedang mempersiapkan beberapa desain bumerang untuk dipajang di sebuah pameran kerajinan tangan di Bangladesh, Juni mendatang. “Semoga saja, bumerang kami bisa menembus pasaran luar negeri,” harapnya. (deni setiawan)

Gubernur Ditipu Anak Buahnya

GUBERNURJawa Tengah, Bibit Waluyo, merasa dibohongi oleh anak buahnya yang tergabung dalam tim penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Anggaran 2010. DPRD Provinsi Jawa Tengah menemukan adanya persamaan antara laporan pertanggungjawaban APBD tahun 2009 dan laporan pertanggungjawaban APBD tahun 2009. Ada dugaan, staf Gubernur hanya melakukan copy paste atau salin tempel.
“Saya kecewa, LKPJ ini disusun asal jadi dan tidak sesuai dengan fakta. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi tidak sama dengan yang dilaporkan. Ternyata keringat saya selama setahn tidak diakui,” kata Bibit seusai mengikuti sidang paripurna DPRD Jateng, Jumat (8/4).
Bibit menjelaskan, LKPJ disusun oleh tim yang beranggotakan staf dari masing-masing satuan kerja yang dikoordinir oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah. “Harus ada yag bertangung jawab pada penyusunan laporan yang tidak sesuai denga fakta ini,” katanya.
Sebelumnya, DPRD Jateng menolak laporan pertangungjawaban APBD Jateng tahun 2010 dengan alasan sekadar menyalin laporan serupa tahun 2009. Ketua Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Anggaran 2010 DPRD Jateng, Sri Ruiyati mengatakan, laporan pertangungjawaban APBD 2010 tidak layak untuk dibahas karena hanya menyalin LKPJ tahun 2009.
“Contohnya, pertangungjawaban di bidang pariwisata serta pertanahan yang ternyata sama persisi dengan laporann tahun 2009. Selain itu, kesalahan mendasar yang cukup mencolok terdapat pada komposisi kursi DPRD Jateng yang mengacu hasil Pemilihan Umum 2004, Gubernur hanya menyebutkan tujuh fraksi, tanpa Hanura dan Gerindra,” jelas Ruiyati.
Oleh karena itu, DPRD mengembalikan LKPJ tahun 2010 dan memberi waktu sebulan untuk perbaikannya.

Konspirasi
Menanggapi persoalan tersebut, Sekretaris Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KP2KKN) Jateng, Eko Haryanto menduga tim penyusun laporan sengaja mempermalukan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo.
Jika hal itu memang tidak disengaja, berarti staf Gubernur merupakan orang-orang yang tidak profesional dan bertindak sembrono.
Anggota DPRD Jateng, Adi Rustanto menganggap, adanya konspirasi usaha menjatuhkan citra Gubernur Bibit Waluyo melalui LKPJ Anggaran 2010 yang tidak sesuai dengan di lapangan. Dia meminta, Gubernur Jateng menelusuri keberadaan yang sesungguhnya dalam masalah tersebut. (dse)

Mengadu ke LBH Semarang

SEPULUH orang perwakilan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang, mengadu ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Semarang. Mereka mendatangi kantor LBH di Jalan Parang Kembang 14 Semarang, Jumat (8/4).
Para PKL itu mengadukan keputusan Wali Kota Semarang Soemarmo HS, mengenai pelarangan bselama empat hari, 7-10 April, yang dianggap diskriminatif.
Kepada Luthfi Dwi Yoga, staf Divisi Kemiskinan Perkotaan YLBHI-LBH Semarang yang menemui mereka, para PKL itu menyatakan, mereka merasa telah dibohongi oleh Wali Kota Semarang.
“Ketika saya bertemu Pak Marmo (Wali Kota Semarang –Red), beliau menyampaikan tidak akan meliburkan kami berjualan. Tetapi kenyataannya berbunyi sebaliknya,” kata Ani Kusrini, Ketua Persatuan PKL Semarang.
Haryono, Ketua Paguyuban PKL Thamrin mengatakan, tak hanya sekali ini saja mereka diminta paksa untuk libur berjualan. Apabila dirata-rata, tiap tahun bisa mencapai lima kali dan hamper sampai lima hari di tiap larangan tersebut. “Larangan berjualan biasanya berkait HUT Kota Semarang, ultah Satpol PP, atau ketika ada kunjungan presiden, atau saat ada penilaian Adipura,” katanya (dse)

Lintas Malam Diprotes

PERSOALAN pengaturan angkutan lintas malam Kendal-Semarang makin carut marut saja. Di satu sisi, keberadaan mereka menuai protes angkutan umum di Kota Semarang. Di sisi lain, awak lintas malam merasa telah mendapatkan izin trayek hingga ke Terminal Terboyo dari Pemprov Jateng.
Rabu (6/4), para awak angkuran kota C-9 Jurusan Rejomulyo-Mangkang berdemo di sekitarpertigaan Krapyak, Semarang Barat. Dalam aksi yang diakui sekitar 35 orang itu, mereka menuntut Pemkot Semarang serius mengatasi masalah angkutan lintas malam yang berlarut-larut.
Mereka juga menolak keras atas keluarnya izin dari Pemprov Jateng mengenai dibolehkannya angkutan lintas malam beroperasi hingga Terminal Terboyo. “Kami sudah tiga kali melayangkan surat kepada Pemkot Semarang melalui Dishubkominfo, tetapi tak kunjung direspons,” jelas Kristantoro (30), koordinator aksi.
Pangkal masalah yang diributkan para sopir adalah angkutan Izusu yang beroperasi sore hingga dini hari, tidak berhenti di Terminal Mangkang, tetapi meneruskan hingga ke Terminal Terboyo. Padahal, sesuai dengan SK Wali Kota Semarang tentang Optimalisasi Terminal Mangkang yang diberlakukan sejak 1 Juni 2010, seluruh angkutan dari barat tujuan Semarang harus berhenti di Mangkang.
Namun, hingga kini tak pernah terealisasi karena masing-masing trayek merasa sudah mengantongi izin beroperasi. Sesuai izin yang dikeluarkan Dishubkominfo Kabupaten Kendal, trayek angkutan lintas malam sampai ke Kota Semarang. “Setelah Pemprov Jateng turun tangan, justru malah merugikan para awak angkutan kota Jurusan Rejomulyo-Mangkang karena diizinkannya lintas malam beroperasi hingga masuk Kota Semarang,” jelas warga Kedungmundu itu.
Terpisah, Kepala Dishubkominfo Kabupaten Kendal, Tatang Iskandaryanto menjelaskan, sejauh ini memang tidak ada pelarangan dari Pemprov Jateng atas izin trayek itu. “Karena itulah, trayek angkutan lintas malam dari Kendal dapat sampai ke Terminal Terboyo, Penggaron, serta bisa melewati sejumlah ruas jalan seperti Kaligawe, Kartini, Raden Patah, dan Pedurungan,” kata Tatang.

Perlindungan Keamanan
Pada aksi itu, para awak angkutan kota tersebut juga menuntut perlindungan keamanan dari tindak premanisme. Sejak awal tahun 2011 hingga kini, tercatat sudah dua sopir yang menjadi korban tindak kriminal tersebut. Hal itu terjadi karena para awak angkutan kotaC-9 melarang angkutan lintas malam masuk ke Kota Semarang.
“Para preman itu, sengaja melindungi para sopir angkutan lintas malam. Dua orang sudah menjadi korban tindakan mereka, yakni Arifin dan Arif,” jelas Kristantoro.
Dia menambahkan, angkutan kota mereka dirusak dan sopirnya dipukuli oleh para preman. Pihaknya sudah melaporkan ke polisi, tetapi tak ada respons.
Kepala Dishubkominfo Kota Semarang, Gurun Risyadmoko mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat kepada Wali Kota Soemarmo HS untuk memenuhi permintaan para awak angkutan kota C-9 Jurusan Johar-Mangkang.
“Kami sudah meminta kepada Pak Wali untukmenolak surat keputusan Pemprov Jateng. Surat penolakan itu, akan ditunukan pada Senin (11/4) mendatang,” kata Gurun ketika menemui awak angktan kota yang berdemo. (dse)

Kalipancur Makin Ambles

JEMBATAN Kalipancur yang ambles akhir Februari lalu, kini kondisinya makin mengkhawatirkan. Kecekungan pada bagian tengah jembatan yang menghubungkan Manyaran-Gunungpati itu sudah mencapai 50 sentimeter.
Sepeda motor dan mobil yang melintasi jembatan tersebut, terlihat semakin menanjak tajam saat berada di titik cekungan tersebut. Salah satu pagar besi sebagai pengaman juga mulai putus karena tidak kuat menahan lengkungan jembatan yang makin dalam.
Lurah Sadeng, Gunungpati, Sunardi mengatakan, melihat makin padatnya kendaraan yang melintasi jembatan itu, wajar jika jembatan tersebut makin ambles. “Kami menduga, semakin amblesnya pondasi jembatan Kalipancur, selain masih banyaknya kendaraan berat seperti truk yang melintas, juga karena debit air Kali Kreo yang semakin besar,” jelas Sunardi.
Meskipun di ujung jembatan sudah dipasang rambu-rambu larangan oleh Dihubkominfo Kota Semarang bagi kendaraan beroda empat, tetap saja ada mobil maupun truk yang terus melintas. Hal ini dikarenakan jalan itu merupakan jalan vital, sebagai penghubung dari Manyaran menuju Gunungpati, begitu pula sebaliknya.
Sunardi berharap, Pemkot Semarang melalui Dishubkominfo serius memperhatikan dan turun tangan mengatasi jembatan yang makin kritis tersebut. Warga khawatir, apabila dibiarkan, tak sampai dua bulan, jembatan yang berada di atas Kali Kreo di Desa Sadeng itu, akan putus.
Waluyo (32), warga RT 05 RW 04 Gisiksri, Sadeng, Gunungpati, juga khawatir apabila dibiarkan dan tidak segera diperbaiki, tanpa diketahui siapa pun tiba-tiba putus dan menelan korban jiwa.
“Terlebih lagi, hamper setiap hari intensitas hujan selalu tinggi, air yang mengalir di Kali Kreo semakin deras dan sangat berpotensi menggerus pondasi jembatan,” tambahnya.

Jembatan Wonosari
Sementara itu, Jembatan Wonosari, Ngaliyan, yang putus ketika banjir bandang pada 9 November 2010, saat ini sedang dalam proses perbaikan. Diperkirakan, jembatan yang berada di Kelurahan Wonosari, bisa digunakan dua minggu mendatang.
“Pengerjaan jembatan yang sudah hamper sebulan ini, diperkirakan akan selesai seminggu lagi dan siap dipakai pada 20 April 2011. Saat ini hanya tinggal tahap pengecoran,” kata Choiruman (47), Koordinator pengawas dari RT 02 RW 06 Wonosari, Ngaliyan.
Dia menambahkan, pembangunan jembatan sepanjang 17, 3 meter dan lebar 2 meter itu, dikerjakan oleh 27 pekerja yang dbagi menjadi tiga bagian, yakni pembuatan pondasi tujuh orang, penempelan besi sepuluh orang, dan pengecoran sepuluh orang.
Rosidah (60), warga RT 05 RW 07 Wonosari, Ngaliyan, mengatakan, warga sangat bersyukur akhirnya jembatan tersebut, dibangun juga.
“Jembatan Wonosari merupakan jembatan vital di wilayah kami. Semenjak jembatan itu putus, akses yang menghubungkan RT 05 RW 07 dengan RT 02 RW 06 menjadi susah,” jelas Rosidah. (dse)

Sulam Pita Yuli Sampai Belanda

TAMAN Menteri Supeno menjadi sangat sibuk pada siang hari. Taman yang biasanya sepi itu dipadati pengunjung berbagai stan, yang menjual aneka kerajinan khas Semarang.
Mlati Wangi, usaha rumahan yang dimiliki Yuli Muhawati (42) merupakan satu dari puluhan stan Usaha Kecil Menengah/Industri Kecil Menengah (UKM/IKM) yang mengikuti pameran itu. Direncanakan, pameran berlangsung hingga tiga bulan mendatang.
Yuli menjelaskan, Mlati Wangi yang bergerak di bidang sulam pita, dirintisnya sejak 2000. Dia merasa jenuh ketika di rumah tanpa ada aktivitas sampingan.
“Dulu saya sering merasa jenuh ketika di rumah. Bingung mau ngapain ketika semua tugas sebagai ibu rumah tangga sudah selesai. Mau kerja kantoran dilarang oleh suami,” jelas lulusan Psikologi Unika Soejipranata Semarang itu. Yuli kemudian iseng membuka-buka internet, lalu menemukan beraneka ragam usaha yang bisa dikerjakan di rumah. Setelah mempelajari, dia langsung menjatuhkan pilihan ke bisnis sulam pita.

Kursus
Dia lalu mengikuti kursus sehari di Jalan Dr Cipto, dengan biaya Rp 100 ribu. Lantas, dia membeli sehelai jilbab polos, dan menyulamnya dengan berbagai motif. “Saya harus kursus dahulu agar lebih paham teknik-teknik menyulam dengan pita jepang. Jujur, saya belum pernah sama sekali bersentuhan langsung dengan jarum dan benang,” kata wanita beranak tiga itu.
Setelah dirasa terampil menyulam jilbab, wanita yang bertempat tinggal di Jalan Mlatiharjo Tengah 14 Semarang, kemudian mengembangkan ke sarung bantal, tas, dan pakaian. Hasilnya, secara autodidak, Yuli telah mampu menciptakan motif-motif baru.
Setiap Minggu pagi, dia membuka dasaran di Simpanglima dan Jumat di pasar kaget di belakang Gubernuran. Selain itu, dia juga menerima pesanan sesuai keinginan pembeli, termasuk jenis motifnya. Bisnis itu berkembang pesat pada awal 2011.
“Hampir setiap Minggu setelah berjualan atau mengadakan pameran, tak sedikit orang yang memesan hasil karya saya. Hingga kini, pemasaran tidak hanya di Pulau Jawa, tapi telah sampai di Negeri Belenada,” tambah Yuli.
Dia menjelaskan, harga yang dia jual untuk setiap jenisnya bervariasi, tergantung tingkat kerumitan pengerjaannya, yakni antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per buah. Menurutnya, dari bisnis tersebut, dia dapat meraup keuntungan antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per buah, apa pun jenisnya. Syarat utama bisnis ini, tambahnya, cukup telaten, tekun, dan enjoy. Hanya bermodalkan kain, spons ati, pita jepang, Yuli rata-rata dapat memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 1 juta per bulan. (deni setiawan)

Para Guru Jangan Bantu Kecurangan

PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah menilai, mekanisme kelulusan siswa tahun 2011 sudah lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada ujian nasional (UN) tahun ini, nilai UN bukan lagi menjadi “dewa” yang menentukan kelulusan anak didik. Perubahan mekanisme kelulusan tersebut, diharapkan dapat menekan potensi kecurangan pada ujian nasional (UN). Sekretaris Umum PGRI Jateng, Muhdi, mengatakan, dahulu nilai ujian sekolah memang menjadi salah satu acuan kelulusan, selain nilai UN. Namun, keduanya malah berindikasi saling menjatuhkan, bahkan dapt dikatakan saling membunuh.
Contoh sederhananya, siswa bisa tidak lulus sekolah karena gagal pada UN. Demikian juga sebaliknya, siswa bisa dinyatakan tidak bisa mengikuti UN karena gagal dalam ujian sekolah. “itulah yang saya maksud dapat saling menjatuhkan atau membunuh,” jelas Muhdi.
Menurutnya, formulasi penilaian kelulusan dengan penggabungan nilai UN, nilai ujian sekolah, dan nilai rapot merupakan penilaian yang lebih komprehensif. Dengan demikian, formulasi UN 2011 besert mekanisme kelulusan siswa sudah lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Sedangkan Ketua PGRI Jateng, Soebagyo Brotosedjati mengatakan, dengan formasi baru tersebut, guru tidak perlu mengotori UN misalnya dengan membantu siswanya melakukan tindakan curang. Selain itu, jangan sampai guru membebani siswa atau membuatnya tertekan. “Guru harus percaya sepenuhnya kepada siswa dalam mengerjakan UN,” katanya.
Pada UN tahun ini, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada guru dan sekolah untuk ikut andil dalam menentukan kelulusan siswanya. “Untuk itu, para guru dapat menyikapi pelaksanaan UN 2011 dengan prinsip kejujuran, obyektif, dan adil,” pinta Soebagyo.
Sejauh ini, sekolah telah menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Artinya, kurikulum yang diterapkan bergantung pada potensi yang dimiliki sekolah masing-masing. Atas kondisi tersebut, sekolah dan guru telah diberi kepercayaan dan tanggung jawab penuh dalam menerapkan kurikulum. Maka sudah sewajarnya jika guru dan sekolah juga diberi andil dalam menentukan kelulusan.
Secara terpisah, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Mungin Edy Wibowo mengatakan, nilai UN dan nilai ujian sekolah tak lagi dipisah seperti tahun sebelumnya, namun digabung dengan perbandingan 60:40 untuk UN dan nilai ujian sekolah.
Mungin juga mengatakan, pemerintah melalui BSNP telah mengantisipasi kecurangan antara lain dengan menambahkan tipe soal menjadi lima dari sebelumnya yang hanya dua tipe. Semakin banyak tipe soal, maka semakin kecil pula potensi kecurangan, baik yang dilakukan pihak sekolah maupun siswa. “Sekolah-sekolah yang akan curang pasti kesulitan karena tidak mungkin membantu mengerjakan kelima paket yang memiliki soal berbeda,” kata Mungin. (dse)

Tarif Kaligung Mas Naik 25 Persen

MULAI Jumat 1 Maret, PT Kereta APi (KA) daerah Operasional (Daop) IV Semarang menaikkan tarif KA Kaligung Mas Jurusan Semarang Poncol-Tegal sebesar 25 persen. Dengan demikian, tarif KA Eksekutif itu kini menjadi Rp 50.000 dari semula Rp 40.000.
Selain perubahan tariff tersebut, jadwal keberangkatan pun berubah, yakni yang semula berangkat dari Stasiun Poncol Semarang ukul 18.55 berubah menjadi pukul 16.30.
Kepala Stasiun Poncol Semarang, Widodo menjelaskan, sebenarnya tarif tersebut tidak naik, hanya penyesuaian terhadap tarif batas atas dan batas bawah. Penyesuaian tarif batas bawah pada KA yang secara perdana baru diluncurkan pada 1 Desember 2010 itu, Rp 35.000 dan tarif batas atas Rp 65.000. dengan demikian, tarif Rp 50.000 tersebut masih diizinkan oleh regulator karena belum melewati batas atas.
“Selain itu, sebenarnya harga Rp 40.000 yang diberlakukan sebelum 1 April adalah harga perkenalan awal terhadap KA tersebut atau dapat dikatakan tarif diskon. Mulai awal April, tarif KA Kaligung Mas akan berlaku tarif,” jelas Widodo.
Dia menambahkan, pihak PT KA juga akan berencana memberlakukan tarif batas atas seharga Rp 65.000 ketika masa-masa liburan. “Apabila tidak libur, ya, akai tarif normal,” tambahnya. (dse)

IAIN Kembangkan Syariah Transformatif

MENJELANG perubahan status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), Fakultas Syariah, IAIN Walisongo, Semarang, berusaha mengembangkan ilmu-ilmu syariah transformatif.
Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Imam Yahya mengatakan, visi baru itu harus dipersiapkan agar tidak terlalu kaget dengan eksistensinya ketika program studi perbankan syariah dan ekonomi Islam, beralih status menjadi program studi ekonomi dan perbankan di Fakultas Sosial Humaniora (FSH) IAIN Walisongo pada 2012.
Selain itu, program studi Ilmu Falak, yang sebelumnya menjadi prodi unggulan juga akan berubah status menjadi prodi astronomi di FSH. Secara praktis, yang tersisa dan tetap di Fakultas Syariah hanya tinggal prodi Ahwal Al Syahsyiyyah, Muamalah, dan Jinayah Siyasah.
“Kami tidak ingin berdampak pada eksistensi di fakultas kami ketika IAIN berubah secara resmi menjadi UIN,” kata Yahya. (dse)