Agar Pertemanan Lebih “Buket”

Selasa, 22 Maret 2011

LAPANGAN Radja Futsal, Tembalang, Rabu malam. Sekitar 20 pemuda dengan kaos bola berwarna abu-abu beraksen orange. Tampaknya, mereka telah siap berfutsal-ria.
Tapi, ups, sebelum bertanding di lapangan berukuran 40x40 meter persegi, mereka membentuk lingkaran, seperti mereka mengadakan sebuah ritual.
Koordinator lapangan, Rijal Fadhila, membuka aktivitas sekaligus memberikan sambutan. Apabila ada yang baru dikenal di dalam lingkaran tersebut, dia harus memperkenalkan diri. Terakhir, doa bersama agar ketika latihan futsal selama dua jam tersebut, tak satu pun yang mengalami cedera.
Ritual selesai, giliran sang pelatih beraksi. Memberikan senam pemanasan dan melatih teknik-teknik menggiring, mengumpan, dan menendang bola menjadi menu utama tiap minggunya. Setelah selesai, akan ditentukan pemain terbaik saat itu, setelah melakukan pertandingan beberapa kali.
Hadiah atau penghargaannya? Cukup tepuk tangan dari seluruh pemain, lalu ditutup dengan doa bersama lagi dan dilanjutkan mencari tempat tongkrongan.
Begitulah, aktivitas rutin Buket Football Community, yang rutin diadakan di Radja Futsal, Jalan Prof Dr Soedarto SH 102, Ngesrep Timur V, Tembalang, Semarang, tiap Rabu malam. Buket FC dibentuk pada 29 Oktober 2004 untuk mewadahi orang-orang yang gemar berolahraga, khususnya sepak bola.
Komunitas itu tidak menonjolkan permainan sepak bola yang apik, melainkan lebih mementingkan pertemanan. “Awalnya dari ngobrol-ngobrol santai di Coffee Shop Buket, Jalan Jatisari II, Tembalang. Eh, ternyata banyak yang suka bola. Ya, dibentuklah komunitas sosial ini untuk sekadar berolahraga,” jelas Gatot Hendraputra, anggota Buket FC.
Awal mengapa dipilih futsal, Gatot menjelaskan, ketika akan bermain bola di lapangan besar, timnya tidak mencukupi. Mereka bersusah payah untuk mencari lapangan futsal (2004) dan saat itu hanya ada di GOR Jatidiri Semarang. Nama “Buket” diartikan dengan “erat atau ngumpul”.
Dari nama itu, di komunitas Buket FC berupaya untuk mempererat pertemanan sekaligus mewujudkan kecintaan para anggota terhadap sepak bola.
Seperti disampaikan Gatot, Buket FC tak mengutamakan kedisiplinan maupun keseriusan dalam bermain. Justru jaringan pertemanan yang menjadi ujung tombak kekuatan tim bernama Buket FC dan selalu menjadi faktor utama, baik di dalam maupun di luar lapangan.
“Saya sebagai pelatih ya, terpaksa harus menahan marah, ketika melihat ada yang kurang serius dalam bermain. Prinsip di sini, yang mau mengembangkan diri ya, silakan berusaha. Yang tidak, ya, sudah,” kata Shandy Ernawan, pelatih Buket FC Semarang.
Selain itu, komunitas ini pun bersifat terbuka. “Siapa pun dan dari golongan mana pun, boleh bergabung, termasuk yang tidak bisa bermain bola,” jelas Rijal, mahasiswa Jurusan Akuntansi Undip tersebut. (deni setiawan)

0 komentar:

Posting Komentar